Selamat Ulang Tahun, Sesame Street!

Disclaimer: Entri ini tidak disponsori oleh pihak mana pun. Isi entri merupakan pandangan pribadi penulis.

 
Hari ini, 10 November, 45 tahun yang lalu, sebuah acara anak baru disiarkan di saluran televisi publik di Amerika Serikat (mungkin serupa TVRI di Indonesia). Nama acara itu Sesame Street. Acara ini awalnya dirancang untuk mempersiapkan anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi sebelum mereka masuk sekolah dengan memanfaatkan televisi sebagai medium pendidikan. Harapannya adalah mempersempit “jurang” kesiapan sekolah antara anak-anak dari keluarga yang mampu dan kurang mampu.

Source: Muppet Wikia (http://muppet.wikia.com/wiki/Sesame_Street)

Dalam perjalanannya, Sesame Street berkembang menjadi acara yang menemani hampir setiap anak usia prasekolah di Amerika Serikat — dari kelas ekonomi mana pun anak tersebut berasal. Mungkin hampir tidak ada orang Amerika, setidaknya yang lahir di akhir 1960-an ke mari, yang tidak kenal dan tumbuh menonton Sesame Street. Acara ini bahkan jadi referensi di kebudayaan populer Amerika (Ingat episode sitcom Scrubs yang ini?). Bahkan, konon, untuk artis-artis papan atas Amerika, belum afdol kalau belum pernah jadi bintang tamu di Sesame Street, karena nggak sembarang public figure bisa tampil bersama Elmo, Grover, Big Bird, dan kawan-kawan. 😀

Sesame Street sendiri kemudian diproduksi di berbagai negara. Di masing-masing negara, isi Sesame Street diadaptasi agar sesuai dan relevan dengan kebudayaan negara yang bersangkutan. Berbagai riset mengenai Sesame Street menunjukkan bahwa acara ini memiliki pengaruh positif bagi anak-anak, dan pegaruhnya lasting. Tidak cuma belajar tentang angka, huruf, dan kata, Sesame Street juga membantu anak belajar mengenai kesehatan dan keamanan, keberagaman, dan bagaimana bersikap terhadap kelompok lain (out-group) (contohnya lihat di sini atau sini), walaupun tentu saja Sesame Street juga bisa diulas dari perspektif critical studies (misalnya di sini). Sesame Street adalah contoh bahwa program televisi untuk anak-anak juga bisa dirancang dengan serius dan punya nilai edukatif.

Program Sesame Street Amerika disindikasi di Indonesia di awal tahun 1990-an. Seingat saya RCTI yang waktu itu menyiarkannya. Tanpa menggunakan sulih suara, saat itu Sesame Street disiarkan dengan teks alih bahasa (subtitle). Alhasil, anak-anak yang menonton dan sudah bisa membaca, secara tidak langsung belajar Bahasa Inggris. Jadi “bergeser” , yah, dengan tujuan dan sasaran Sesame Street yang “sebenarnya”? 🙂

Tahun 2007 akhir (atau 2008 awal?), Sesame Street versi Indonesia diluncurkan: Jalan Sesama. Saya, yang waktu itu kebetulan sudah mulai studi di Amerika Serikat, senang sekali waktu membaca berita tentang Sesame Street ini. Apalagi paling enggak ada 2 teman kuliah saya yang ikut mengawaki Jalan Sesama (Hai, Dita dan Rara! 😀 ). Sungguh bangga. Akhirnya…anak-anak Indonesia (paling tidak tahun 2007 itu) punya acara yang tidak cuma aman, tapi mendidik. Tentu saja Jalan Sesama tidak berbahasa Inggris, karena Sesame Street sendiri memang bukan acara untuk belajar bahasa asing — kebetulan saja di Amerika Serikat bahasa yang dipakai Bahasa Inggris. Jadi malah kurang tepat kalau ada yang protes, “Aneh, ah, Jalan Sesama. Masak Sesame Street pakai Bahasa Indonesia?” Konsisten dengan riset-riset tentang Sesame Street, Jalan Sesama juga sukses membantu anak-anak dari komunitas yang kurang mampu (lihat di sini).

Saya senang karena akhirnya ada acara anak yang dirancang bagi mereka yang punya keterbatasan ekonomi. Keluarga kelas menengah pada umumnya mampu berlangganan televisi kabel berbayar sebagai alternatif sumber tontonan yang “sehat” buat anak, sementara mereka yang ekonominya terbatas mungkin tak mampu merogoh kantong dalam-dalam, dan akhirnya harus “puas” dengan tontonan yang ada di televisi, yang tidak semuanya ramah anak. Anak-anak dari keluarga dengan sosioekonomi menengah ke atas biasanya tak kekurangan buku, video, dan permainan edukatif, sedangkan anak-anak yang berasal dari strata ekonomi bawah cenderung tak punya orang tua yang tahu atau mampu menyediakan buku-buku dan media yang bermanfaat (entah karena tidak tahu atau memang tidak ada dana). Televisi bolehjadi adalah medium hiburan dan informasi utama (kalau bukan satu-satunya) buat anak-anak ini. Betapa senangnya saya waktu mendengar bahwa Jalan Sesama ditujukan utamanya bagi anak-anak dari keluarga dengan kemampuan finansial terbatas. 🙂

[KOREKSI: Saat ini ternyata — saya perlu lebih up-to-date soal Jalan Sesama, nih — Jalan Sesama ditayangkan di MNC Kids Channel 42 Indovision. Di satu sisi, jadual dan jam tayangnya ideal buat anak-anak (stripping Senin-Minggu di pagi hari). Namun, di sisi lain, pindahnya Jalan Sesama ke saluran televisi berbayar menurut saya agak defeating the purpose of the program. Masihkah siaran Jalan Sesama menjangkau anak-anak dengan limited economic or educational resources? Di Amerika Serikat, Big Bird dan kawan-kawannya ditayangkan di saluran televisi non-komersial. Tokoh-tokoh Sesame Street juga menjadi simbol resistensi masyarakat akan trend budget cut bagi televisi publik (Public Broadcasting Service — PBS). Mitt Romney “kena batunya” ketika pada debat capres tahun 2012 berargumen akan memotong alokasi dana untuk PBS, “I love Big Bird, but I am not keep spending money for on things to borrow from China to pay for.“]

Momon, Putri, Tantan, dan Jabrik dari Jalan Sesama (image source: http://muppet.wikia.com/wiki/Jalan_Sesama)

Selamat ulang tahun, ya, Sesame Street dan Jalan Sesama. Salam hormat saya untuk para kru, produser, penulis, dan tim peneliti Jalan Sesama. Mudah-mudahan panjang umur, dan tetap serius serta tangguh di “garis depan” acara edukatif anak-anak. 🙂 [dan mudah-mudahan tetap/kembali bisa dinikmati oleh anak-anak dari segala lapisan]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s